Ditulis Oleh : Suci Suryaning Dias, S.Pd
Batavia atau yang sekarang kita sebut dengan Jakarta sejak masa kuno telah menjadi daerah yang penting. Di masa kuno Batavia menjadi wilayah penting di bawah kekuasaan Kerajaan Banten. Potensi pelabuhan yang strategis di jalur lintas perdagangan rempah menjadikan Batavia ramai didatangi oleh banyak pedangang asing. Termasuk juga negara-negara Eropa melakukan ekspedisi menyusuri samudra untuk mencari daerah penghasil rempah.
Kedatangan dari pihak VOC ke Banten ini tentunya membawa berbagai pengaruh pada perkembangan kota Batavia di kemudian hari. Menurut Tjahjono (2002:106) “Batavia yang awalnya bernama Jayakarta dan Sunda kelapa pada abad ke-17 yaitu pada tahun 1619 merupakan benteng VOC di timur, dan merupakan suatu tanda untuk kedatangan Belanda khususnya dalam perekonomiannya di Nusantara”. Hal ini menjadikan Batavia sebagai salah satu kota dagang penting di Nusantara. Batavia berhasil menyaingi kota dagang lainnya, yang dikenal sebagai sebuah bandar pelabuhan untuk meyalurkan barang-barang dagang, seperti Banten, Cirebon, dan juga Demak.
Batavia yang terus berkembang membawa dampak yang besar bagi kehidupan masyarakatnya yang tinggal disekitarnya baik dari kalangan pribumi, timur asing hingga warga kulit putih sendiri. Bidang ekonomi dan sosial mengalami perubahan yang cukup terlihat. Hal ini wajar terjadi sebab kedua bidang tersebut merupakan bidang yang urgen dalam kehidupan bermasyarakat. Hal ini diungkapkan oleh Wiharyanto (2007:1) sebagai berikut.
“Di Indonesia, VOC pertama kali berpusat di Ambon. Gubernur Jenderal pertamanya adalah Pieter Both. Di bawah kepemimpinannya, VOC berhasil menguasai perdagangan rempah-rempah di Maluku. Namun, itu belum cukup bagi VOC sebab Malaka sebagai pusat perdagangan di Asia Tenggara masih dikuasai Portugis. Oleh karena itu, untuk menyingkirkan Portugis, Pieter Both merasa perlu memindahkan pusat kegiatan VOC dari Ambon ke Jayakarta.”
Pieter Both memilih Jayakarta sebagai pusat kegiatan VOC dikarenakan Portugis telah mendirikan kantor dagang lebih dahulu di Jayakarta. Hal ini menunjukan persaingan ketat antara VOC dan Portugis. Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen yang memindahkan pusat kegiatan VOC dari Maluku ke Jayakarta. J.P Coen sapaan dari Jan Pieterszoon Coen kemudian mengubah nama Jayakarta menjadi Batavia. Sejak periode ini kegiatan VOC dipusatkan ke Batavia. Awal penyebutan Batavia tidak lepas dari VOC yang membangun Benteng Batavia. Abdullah dan Lanpian (2012:28) mengutarakan “hingga 1800, Benteng Batavia merupakan pusat kegiatan VOC. Di Batavia terdapat komunikasi yang teratur dengan kantor- kantor di seluruh Asia, terutama di wilayah Indonesia”.
Willard A. Hanna dalam Hikajat Jakarta ang dinyatakan ulang oleh Rachamadita (2023)
“Batavia mencapa puncak kemakmuran dan kejayaan kira-kira pada 1700. Kota ang dijuluku Queen of the East atau Ratu dari Timur itu melebarkan daerahnya sepanjang terusan Molenvliet baru ke arah daerah – daerah pedalaman ang diangun dalam waktu singkat dengan rumah – rumah besar, taman – taman bagi golongan elite, dan pemukiman berkelompok ang lebih sederhana bagi orangg Eropa, Indo dan Asia”
Hal ini jelas menunjukan bahwa pilhan VOC untuk memindahkan pusat kekuasaannya ke Batavia merupakan pilihan yang srategis. Terbukti dengan kemakmuran yang ditujukan oleh pegawai pemerintahannya yang penuh dengan gemerlap kemewahan. Dapat dibayangkan betapa keuntungan yang didapatkan VOC sungguh besar. Mungkin di hari ini kita menyebutnya flexing. Namun tentu flexing tetap menunjukan bahwa kesejahteraan pegawai yang meningkat selaras denggan peningkatan jumlah pendapatan pemerintah VOC.
Dampak sosial dari gemerlap kehidupan pegawai VOC di Batavia adalah kemunculan daerah kumuhnya. Tentu daerah kumuh ini selayaknya tidak dikunjungi dan menjadi perhatian utama dari pemerintah. Pribumi yang daang karena gemerlap Batavia ternyata harus menelan pil pahit atas kekurang beruntungannya menghadapi penjajahan.
Tetapi kedigdayaan VOC tidak selamanya abadi, pada tanggal 31 Desember 1779, VOC resmi dibubarkan. Hal ini dikarenakan keuntungan yang dihasilkan VOC. VOC kemudian tercatat menanggung utang dalam jumlah besar. Salah satu penyebabnya adalah korupsi yang merajalela di kalangan para pegawai. Kemudian Wiharyanto menyatakan (2012:9) salah satu penyebab dari runtuhnya VOC yang mengalami kerugian besar adalah Perang Inggris-Belanda dan Perancis 1780-1784. Pasca keruntuhan VOC sebagai persahaan dagang, Batavia tetap menjadi lokasi yang penting dalam sejarah kolonial di Indonesia. Batavia tetap menjadi pusat pemerintahan dan kegiatan ekonomi bahkan hingga masa pendudukan Jepang.
Daftar Rujukan
Abdulah&Lapian. 2012. Indonesia dalam Arus Sejarah Jilid IV. Jakarta: PT Ichtiar Baru van Hoeve
Rachmadita, A. 2023. Flexing masa VOC di Batavia. (Online) (Historia) (https://historia.id/urban/articles/flexing-masa-voc-di-batavia-DnMdq/page/1)
Tjahjono, G. 2002. Indonesia Heritage: Arsitektur. Jakarta: Buku Antar Bangsa Atmosudirjo, P. 1984. Sejarah Ekonomi Indonesia dari Segi Sosiologi. Jakarta: PT. Pradnya Pramita
Wiharyanto, A.K. 2008. Kebijakan Ekonomi Kolonial Tahun 1830-1901. (Online), (https://www.usd.ac.id/lembaga/lppm/f1l3/Jurnal%20Historia%20Vitae/vol22no1 april2008/KEBIJAKAN%20EKONOMI%20KOLONIAL%20kardiyat.pdf)




