MEMBANGUN RUMAH DI SURGA

Konsekuensi Beriman kepada Hari Akhir

Di antara konsekuensi beriman kepada hari akhir adalah beriman akan kebenaran surga dengan segala kenikmatan yang ada di dalamnya, banyak sekali dalil berupa nash Al-Quran dan Hadis yang menjelaskan hal ini.

Syaikh Umar Sulaiman Al-Asyqar menjelaskan: “Surga adalah ganjaran yang agung, pahala yang berlimpah, yang Allah siapkan bagi para wali-Nya dan orang-orang yang taat kepada-Nya. Surga adalah kenikmatan yang sempurna tanpa cela sedikit pun, dan kejernihannya tidak terkeruhkan oleh kotoran sedikit pun. Segala apa yang Allah dan rasul-Nya kabarkan tentang surga mengagumkan akal pikiran dan mengacaukannya; karena gambaran akan agungnya kenikmatan tersebut tidak akan mampu dicapai oleh akal.” (Al-Aqidah fi Dhauil Kitab was Sunnah: 5/117)

Kenikmatan Surga

Allah ta’ala berfirman:

فَلا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (17)

“Seorang pun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka, yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. As-Sajdah: 17)

Ketika menafsirkan ayat yang mulia ini Imam Ibnu Katsir menukilkan hadis yang menyebutkan sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:

قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: أَعْدَدْتُ لِعِبَادِي الصَّالِحِينَ مَا لَا عَيْنٌ رَأَتْ، وَلَا أُذُنٌ سَمِعَتْ، وَلَا خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ

“Allah ta’ala berfirman, “Aku telah menyediakan bagi hamba-hamba-Ku yang saleh, yaitu (bermacam-macam nikmat) yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah terdengar oleh telinga, dan belum pernah terbetik dalam hati seorang manusia pun.”(HR. Al-Bukhari: 4780, Muslim: 2824)

Nikmat Berupa Rumah atau Istana

Allah ta’ala berfirman:

وَمَا أَمْوَالُكُمْ وَلا أَوْلادُكُمْ بِالَّتِي تُقَرِّبُكُمْ عِنْدَنَا زُلْفَى إِلا مَنْ آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَأُولَئِكَ لَهُمْ جَزَاءُ الضِّعْفِ بِمَا عَمِلُوا وَهُمْ فِي الْغُرُفَاتِ آمِنُونَ (37)

“Dan sekali-kali bukanlah harta dan bukan (pula) anak-anak kamu yang mendekatkan kamu kepada Kami sedikit pun; tetapi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, mereka itulah yang memperoleh balasan yang berlipat ganda disebabkan apa yang telah mereka kerjakan; dan mereka aman sentosa di kamar-kamar (tempat-tempat yang tinggi dalam surga).” (QS. Saba: 37)

Imam Ibnu Katsir menjelaskan maksud dari “fil ghurufati aminun” adalah di rumah-rumah yang tinggi di dalam surga dalam keadaan aman dari semua siksaan, aman dari rasa takut, dan aman dari gangguan semua kejahatan yang mengerikan. (Tafsir Ibnu Katsir)

Dalam ayat yang lain Allah ta’ala berfirman:

لكن الَّذِينَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ لَهُمْ غُرَفٌ مِنْ فَوْقِهَا غُرَفٌ مَبْنِيَّةٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ وَعْدَ اللَّهِ لَا يُخْلِفُ اللَّهُ الْمِيعَادَ (20)

“Tetapi orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya, mereka mendapat kamar-kamar (tempat-tempat yang tinggi), di atasnya dibangun pula kamar-kamar (tempat-tempat yang tinggi) yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Allah telah berjanji dengan sebenar-benarnya. Allah tidak akan memungkiri janji-Nya.” (QS. Az-Zumar: 20)

Dalam hadis disebutkan:

إِنَّ فِي الْجَنَّةِ غُرْفَةً يُرَى ظَاهِرُهَا مِنْ بَاطِنِهَا وَبَاطِنُهَا مِنْ ظَاهِرِهَا أَعَدَّهَا اللَّهُ لِمَنْ أَطْعَمَ الطَّعَامَ وَأَلَانَ الْكَلَامَ وَتَابَعَ الصِّيَامَ وَصَلَّى وَالنَّاسُ نِيَامٌ

“Di dalam surga ada sebuah kamar yang luarnya terlihat dari dalamnya dan dalamnya terlihat dari luarnya yang Allah sediakan untuk siapa saja yang memberi makan, memperlembut pembicaraan, selalu berpuasa dan shalat ketika manusia sedang tidur.” (HR. Ahmad: 21831, Shahih Jami Ash-Shaghir: 2119)

Allah ta’ala berfirman dalam ayat yang lain:

حُورٌ مَقْصُورَاتٌ فِي الْخِيَامِ (72)

“(Bidadari-bidadari) yang jelita, putih bersih dipingit di dalam tenda/rumah.” (QS. Ar-Rahman: 72)

Di dalam hadis disebutkan:

فِي الْجَنَّةِ خَيْمَةٌ مِنْ لُؤْلُؤَةٍ مُجَوَّفَةٍ عَرْضُهَا سِتُّونَ مِيلًا فِي كُلِّ زَاوِيَةٍ مِنْهَا أَهْلٌ مَا يَرَوْنَ الْآخَرِينَ يَطُوفُ عَلَيْهِمْ الْمُؤْمِنُ

“Sesungguhnya di surga ada tenda dari mutiara berlubang, lebarnya enampuluh mil. Setiap sudutnya ada keluarga (istri), mereka tidak melihat yang lain, orang mukmin mengelilingi mereka.” (HR. Muslim: 2838)

Dalam ayat yang lain Allah ta’ala berfirman:

يَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَيُدْخِلْكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ وَمَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِي جَنَّاتِ عَدْنٍ ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ (12)

“Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam surga Adn. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. Ash-Shaff: 12)

Imam Al-Qurthubi menyebutkan sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sebagai tafsiran dari “tempat tinggal yang baik di dalam surga Adn.” Yaitu:

“Sebuah istana di dalam surga yang terbuat dari mutiara, di dalam istana tersebut terdapat 70 gedung yang terbuat dari yaqut merah, tiap-tiap gedung terdapat 70 rumah yang terbuat dari zabarjad hijau, tiap-tiap rumah terdapat 70 tempat tidur, di atas tiap-tiap tempat tidur terdapat kasur dari berbagai warna, di atas tiap-tiap kasur terdapat terdapat 70 bidadari bermata jelita, di dalam tiap-tiap rumah terdapat 70 meja hidangan, di atas tiap-tiap meja hidangan terdapat makanan 70 warna, dalam tiap-tiap rumah terdapat 70 pelayan laki-laki dan perempuan. Allah tabaraka wata’ala memberikan kekuatan kepada seorang mukmin dalam sehari untuk (menikmati) semua itu.” (Tafsir Al-Qurthubi)

Di dalam sebuah hadis disebutkan bahwasanya para sahabat bertanya tentang bangunan surga:

قُلْنَا: الْجَنَّةُ مَا بِنَاؤُهَا؟ قَالَ: لَبِنَةٌ مِنْ فِضَّةٍ, وَلَبِنَةٌ مِنْ ذَهَبٍ, وَمِلَاطُهَا الْمِسْكُ الْأَذْفَرُ, وَحَصْبَاؤُهَا اللُّؤْلُؤُ وَالْيَاقُوتُ, وَتُرْبَتُهَا الزَّعْفَرَانُ. مَنْ دَخَلَهَا يَنْعَمُ لَا يَبْأَسُ, وَيَخْلُدُ لَا يَمُوتُ, لَا تَبْلَى ثِيَابُهُمْ, وَلَا يَفْنَى شَبَابُهُمْ.

“Kami bertanya: “Surga, apa bangunanya?” Beliau menjawab: Batu bata dari perak dan batu bata dari emas, semennya minyak kesturi yang harum, tanahnya mutiara dan permata, debunya za’faran, barangsiapa memasukinya, ia bersenang-senang dengan tidak jemu, kekal, tidak mati, baju mereka tidak usang, kemudaan mereka tidak lenyap.” (HR. At-Tirmidzi: 2625, shahih menurut Syaikh Al-Albani)

Empat Golongan Manusia

Secara umum ada 4 golongan umat manusia terkait rumah atau istana di surga:

  1. Orang yang tidak memiliki rumah di dunia dan juga di akhirat. Dia tidak memiliki rumah di dunia karena ia fakir/miskin tak berharta, dan ia tidak mendapat rumah di akhirat karena ia tidak beriman kepada Allah ta’ala.
  2. Orang yang memiliki rumah di dunia namun tidak di akhirat. Dia memiliki rumah di dunia karena ia mampu dan berharta, sedangkan dia tidak mendapat rumah di akhirat karena ia banyak melakukan perbuatan dosa dan maksiat serta ia tidak membelanjakan hartanya di jalan Allah ta’ala.
  3. Orang yang tidak memiliki rumah di dunia, namun ia mendapat rumah di surga. Orang tersebut hidup dalam keadaan miskin di dunia, namun dia tetap bersabar atas ujian kemiskinan yang Allah berikan, ia juga tetap istiqamah di atas keimanan kepada Allah ta’ala.
  4. Orang yang memiliki rumah di dunia sekaligus di surga. Ia diberikan nikmat harta oleh Allah ta’ala di dunia, dan dia beriman kepada Allah ta’ala, taat kepada-Nya serta membelanjakan hartanya di jalan-Nya.

Membangun Rumah di Surga

Ada beberapa amalan yang apabila dilakukan oleh seorang mukmin dengan niatan ikhlas lillahi ta’ala dan sesuai petunjuk Rasulullah shallallahu alaihi wasallam maka akan dijanjikan balasan berupa rumah atau istana di dalam surga. Amalan-amalan tersebut adalah:

  • Beriman kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Disebutkan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan dari Fahalah bin Ubaid radhiyallahu anhu yang mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

أَنَا زَعِيمٌ -وَالزَّعِيمُ الْحَمِيلُ- لِمَنْ آمَنَ بِي وَأَسْلَمَ وَهَاجَرَ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ وَبِبَيْتٍ فِي وَسَطِ الْجَنَّةِ. وَأَنَا زَعِيمٌ لِمَنْ آمَنَ بِي وَأَسْلَمَ وَجَاهَدَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ وَبِبَيْتٍ فِي وَسَطِ الْجَنَّةِ وَبِبَيْتٍ فِي أَعْلَى غُرَفِ الْجَنَّةِ. مَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَلَمْ يَدَعْ لِلْخَيْرِ مَطْلَبًا وَلَا مِنْ الشَّرِّ مَهْرَبًا يَمُوتُ حَيْثُ شَاءَ أَنْ يَمُوتَ.

“Aku adalah penjamin -dan penjamin adalah orang yang menanggung-, bagi orang yang beriman kepadaku, masuk Islam dan berhijrah, ia akan mendapatkan rumah yang berada di sekeliling surga dan rumah di tengah surga, dan aku penjamin bagi orang yang beriman kepadaku, masuk Islam dan berjihad dijalan Allah, ia mendapatkan rumah disekeliling surga, rumah di tengah surga dan rumah di atas tempat-tempat tertinggi di surga, barang siapa yang melakukan hal itu, dan ia juga tak pernah meninggalkan tempat berburu kebaikan dan tempat lari dari keburukan, maka ia meninggal ditempat yang ia ingini.” (HR. An-Nasai: 3133, shahih menurut Syaikh Al-Albani)

  • Bersabar dan mengucapkan kalimat istirja (innalillahi wainna ilaihi raji’un) ketika diberi ujian berupa wafatnya anak. Disebutkan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

إِذَا مَاتَ وَلَدُ الْعَبْدِ قَالَ اللَّهُ لِمَلَائِكَتِهِ: قَبَضْتُمْ وَلَدَ عَبْدِي؟ فَيَقُولُونَ نَعَمْ فَيَقُولُ قَبَضْتُمْ ثَمَرَةَ فُؤَادِهِ فَيَقُولُونَ: نَعَمْ. فَيَقُولُ: مَاذَا قَالَ عَبْدِي؟ فَيَقُولُونَ: حَمِدَكَ وَاسْتَرْجَعَ. فَيَقُولُ اللَّهُ: ابْنُوا لِعَبْدِي بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ وَسَمُّوهُ بَيْتَ الْحَمْدِ.

“Jika anak seorang hamba meninggal, Allah berfirman kepada para malaikat-Nya: “Kalian telah mencabut nyawa anak hamba-Ku?” Mereka menjawab; “Ya.” (Allah tabaraka wata’ala) berfirman; “Kalian telah mencabut nyawa buah hatinya?” Mereka menjawab; “Ya.” (Allah tbaraka wata’ala) bertanya: “Apa yang diucapkan hambaKu.” Mereka menjawab; “Dia memuji-Mu dan mengucapkan istirja.” Allah berkata: “Bangunlah untuk hamba-Ku satu rumah di surga, dan berilah nama dengan Baitul Hamd.” (HR. At-Tirmidzi: 1021, hasan menurut Syaikh Al-Albani)

  • Meninggalkan perdebatan meski berada di pihak yang benar, meninggalkan dusta meski dalam bercanda, dan berakhlak mulia. Disebutkan dalam sebuah hadis:

أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا, وَبِبَيْتٍ فِي وَسَطِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ وَإِنْ كَانَ مَازِحًا, وَبِبَيْتٍ فِي أَعْلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسَّنَ خُلُقَهُ.

“Aku akan menjamin rumah di tepi surga bagi seseorang yang meninggalkan perdebatan meskipun benar. Aku juga menjamin rumah di tengah surga bagi seseorang yang meninggalkan kedustaan meskipun bershifat gurau, Dan aku juga menjamin rumah di surga yang paling tinggi bagi seseorang yang berakhlak mulia.” (HR. Abu Dawud: 4800, hasan menurut Syaikh Al-Albani)

  • Mengerjakan shalat Dhuha 4 raka’at dan Qabliyah Zhuhur 4 raka’at. Disebutkan dalam sebuah hadis:

من صلى الضحى أربعا, وقبل الأولى أربعا, بني له بها بيت في الجنة

“Barang siapa yang shalat Dhuha 4 raka’at, dan sebelum zhuhur 4 raka’at, maka dibangunkan baginya rumah di surga.” (HR. Ath-Thabrani dalam Al-Ausath, Ash-Shahihah: 2349, hasan menurut Syaikh Al-Albani)

  • Mengerjakan shalat sunnah rawatib 12 raka’at. Disebutkan dalam sebuah hadis dari Ummu Habibah radhiyallahu anha yang mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

مَنْ صَلَّى اثْنَتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً فِي يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ بُنِيَ لَهُ بِهِنَّ بَيْتٌ فِي الْجَنَّةِ

“Barangsiapa shalat dua belas rakaat sehari semalam, maka akan dibangunkan baginya sebuah rumah di surga.” (HR. Muslim: 728)

Dalam hadis lain disebutkan secara lebih rinci lagi:

مَنْ ثَابَرَ عَلَى ثِنْتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً مِنْ السُّنَّةِ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْفَجْرِ

“Barang siapa menjaga dalam mengerjakan shalat sunnah 12 raka’at, maka Allah akan membangunkan rumah untuknya di surga, yaitu 4 raka’at sebelum Zhuhur, 2 raka’at setelah Zhuhur, 2 raka’at setelah Maghrib, 2 raka’at setelah Isya dan 2 raka’at sebelum Shubuh.” (HR. At-Tirmidzi: 414, Ibnu Majah: 1140, An-Nasai: 1795, shahih menurut Syaikh Al-Albani)

  • Membangun masjid ikhlas lillahi ta’ala. Disebutkan dalam sebuah hadis dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

مَنْ بَنَى مَسْجِدًا لِلَّهِ كَمَفْحَصِ قَطَاةٍ أَوْ أَصْغَرَ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ

“Barangsiapa membangun masjid karena Allah meski sebesar sangkar burung, atau bahkan lebih kecil dari itu, maka Allah akan membangunkan baginya satu istana di surga.” (HR. Ibnu Majah: 738, shahih menurut Syaikh Al-Albani)

Wallahu a’lam
_____________
Sumber:

  • Tafsir Al-Qurthubi
  • Tafsir Ibnu Katsir
  • Al-Aqidah fi Dhauil Kitab was Sunnah
  • Website www.saaid.net

Tinggalkan Balasan