MATAHARI DI UJUNG SENJA

Allah Maha Pencipta

Allah subhanahu wa ta’ala dengan segala kekuasaan-Nya telah menciptakan manusia dengan segala perubahan keadaan yang mengiringinya. Allah ta’ala ciptakan manusia bermula dari sari pati tanah, kemudian berubah menjadi air mani, lalu gumpalan darah, lalu gumpalan daging. Allah ta’ala jadikan gumpalan daging itu tulang belulang, lalu dibungkuslah tulang belulang tersebut dengan daging, hingga akhirnya menjadi janin dalam bentuk yang sempurna. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah:

ولقد خلقنا الإنسان من سلالة من طين ֎ ثم جعلناه نطفة في قرار مكين ֎ ثم خلقنا النطفة علقة فخلقنا العلقة مضغة فخلقنا المضغة عظاما فكسونا العظام لحما ثم أنشأناه خلقا آخر فتبارك الله أحسن الخالقين ֎

Artinya: “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu sari pati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan sari pati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan ia makhluk yang berbentuk (lain). Maka Maha Suci Allah sebaik-baik Pencipta.” (Q.S. Al-Mukminun: 12-14)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata mengenai penjelasan ayat yang mulia ini:

“Allah Ta’ala berfirman mengkabarkan tentang permulaan penciptaan manusia dari asal sari pati tanah; yaitu Nabi Adam ‘Alaihis salam yang Allah ciptakan dari tanah liat yang berasal dari tanah lumpur yang tua.” (Al-Misbahul Munir fi Tahdzib Tafsir Ibnu Katsir, hal. 910)

Hal ini sekaligus membantah teori Darwin yang mengatakan asal nenek moyang manusia adalah bangsa kera.

Imam Ahmad bin Hanbal meriwayatkan hadits dari Abu Musa, dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

إن الله خلق آدم من قبضة قبضها من جميع الأرض, فجاء بنو آدم على قدر الأرض, جاء منهم الأحمر والأبيض والأسود وبين ذلك, والخبيث والطيب وبين ذلك

“Sesungguhnya Allah ta’ala menciptakan Adam dari segenggam (tanah) yang digenggamnya dari seluruh bumi. Oleh karena itu anak keturunan Adam seperti keadaan (tanah) bumi; di antara mereka ada yang (berkulit) merah, putih, hitam, dan berwarna kulit di antara itu semua. Di antara mereka juga ada yang buruk dan juga ada yang baik, dan juga ada yang (bersifat) di antara keduanya.” (H.R. Ahmad: 18813)

Masa Tua Pasti Datang

Tatkala rambut mulai memutih (beruban), kulit mulai keriput, penglihatan mulai kabur, pendengaran sayup-sayup terdengar, kekuatan mulai berkurang, badan tak lagi tegap, langkah kaki mulai gontai, ketampanan dan kecantikan wajah mulai pudar, berbagai penyakit pun mulai datang menyapa, inilah saat di mana masa tua telah datang.

Allah ta’ala yang menjadikan perubahan beberapa fase dalam kehidupan manusia; dimulai dari keadaan bayi yang baru lahir dalam kondisi lemah, lalu ia mulai tumbuh menjadi balita dan anak-anak, remaja, lalu dewasa. Allah rubah keadaan lemahnya saat awal waktu kelahiran dengan kekuatan saat ia menginjak dewasa. Kemudian Allah kembalikan ia dalam keadaan lemah kembali saat ia menginjak usia tua. Allah jelaskan perubahan fase ini dalam firman-Nya:

الله الذي خلقكم من ضعف ثم جعل من بعد ضعف قوة ثم جعل من بعد قوة ضعفا وشيبة يخلق ما يشاء وهو العليم القدير

Artinya: “Allah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Ia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.” (Q.S. Ar-Ruum: 54)

Imam Ibnu Katsir menjelaskan maksud ayat yang mulia ini, beliau berkata:

“Allah ta’ala memperingatkan tentang perpindahan sifat penciptaan manusia keadaan demi keadaan; bermula dari asal tanah, berubah menjadi air mani, kemudian segumpal darah, kemudian segumpal daging, kemudian berubah menjadi tulang, lalu tulang dibungkus dengan daging, lalu ditiupkan ruh ke dalamnya, lalu ia keluar dari rahim ibunya dalam keadaan lemah lagi kecil tak berdaya. Kemudia ia pun tumbuh sedikit demi sedikit hingga menjadi anak kecil, hingga ia pun tumbuh menjadi pemuda yang dewasa. Inilah yang disebut kuat dari sebelumnya lemah. Kemudian kondisinya mulai menurun dan melemah, hingga ia menjadi tua dan renta, dan inilah yang disebut lemah kembali setelah sebelumnya kuat. Dalam kondisi ini ambisi diri mulai melemah, gerakan dan juga kekuatan pun melemah. Rambut mulai beruban, sifat dan keadaan diri baik yang zhahir maupun yang batin pun sudah berubah.” (Al-Misbahul Munir fi Tahdzib Tafsir Ibni Katsir, hal. 1059)

Masa Tua adalah Peringatan

Secara umum saat seseorang sudah menginjak usia tua rambut pun mulai putih beruban (walaupun zaman sekarang banyak juga orang yang masih muda namun sudah tumbuh uban di rambutnya). Para ulama menjelaskan bahwa uban yang tumbuh pada rambut seseorang pada hakikatnya adalah sebuah peringatan Allah bagi dirinya, Allah memperingatkan dia bahwa usianya sudah tak muda lagi, sudah saatnya ia tinggalkan semua ambisi dan rasa cinta dunia untuk kemudian fokus terhadap perkara-perkara akhirat sebagai bekal untuk bertemu dengan Allah subhanahu wa ta’ala kelak.

Di dalam Q.S. Faathir: 37 disebutkan:

أولم نعمركم ما يتذكر فيه من تذكر وجاءكم النذير فذوقوا فما للظالمين من نصير

Artinya: “Apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan? Maka rasakanlah (azab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang zhalim seorang penolong pun.” (Q.S. Faathir: 37)

Imam Ibnu Katsir menjelaskan maksud ayat ini, beliau berkata:

“(Maksudnya adalah) apakah kalian tidak hidup di dunia dalam umur (yang panjang), seandainya kalian termasuk orang-orang yang mampu mengambil faedah dari kebenaran niscaya kalian akan memanfaatkan umur-umur kalian untuk (hal-hal yang bermanfaat bagi akhirat kalian)?” (Al-Misbahul Munir fi Tahdzib Tafsir Ibnu Katsir, hal. 1132)

Imam Ibnu Katsir juga menjelaskan bahwa para ulama tafsir seperti Abdullah bin Abbas, Ikrimah, Abu Ja’fa Al-Baqir, Qatadah, Sufyan bin Uyainah menafsirkan “Pemberi Peringatan” dalam ayat yang mulia di atas dengan UBAN. (Al-Misbahul Munir fi Tahdzib Tafsir Ibnu Katsir, hal. 1133)

Imam Ahmad bin Hanbal meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu, dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

لقد أعذر الله تعالى إلى عبد أحياه حتى بلغ ستين أو سبعين سنة, لقد أعذر الله تعالى إليه, لقد أعذر الله تعالى إليه

Artinya: “Sungguh Allah ta’ala telah member udzur (kesempatan) kepada seorang hamba yang Dia hidupkan hingga usianya mencapai 60 atau 70 tahun, sungguh Allah telah memberikan udzur (kesempatan) kepadanya, sungguh Allah telah memberikan udzur (kesempatan) kepadanya.” (H.R. Ahmad: 7388)

Imam Al-Bukhari juga meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu, beliau berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أعذر الله عز وجل إلى امرئ أخر عمره حتى بلغ ستين سنة

Artinya: “Allah azza wa jalla telah memberikan udzur (kesempatan) bagi seseorang dengan menunda (memanjangkan) umurnya hingga mencapai 60 tahun.” (H.R. Al-Bukhari: 5940)

Hadits-hadits di atas menjelaskan bahwa umur yang Allah berikan kepada kita pada hakikatnya adalah kesempatan yang selayaknya kita gunakan sebaik-baiknya. Adapun dalam hadits-hadits tersebut disebutan usia 60 sampai 70 tahun, hal ini karena usia-usia tersebut adalah batas umur mayoritas seseorang hidup di dunia. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits yang lain:

أعمار أمتي ما بين الستين إلى السبعين, وأقلهم من يجوز ذلك

Artinya: “Umur-umur umatku antara 60 hingga 70 tahun, dan sedikit di antara mereka yang melebihi dari pada itu.” (H.R. At-Tirmidzi: 3473, Ibnu Majah: 4226)

Bersambung ke part. 2

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp