You are currently viewing IMAM JA’FAR AL-SHADIQ

IMAM JA’FAR AL-SHADIQ

Imam Ja’far dilahirkan di Madinah pada tanggal 7 Rabi’ul awwal tahun 53 H (699 M). Ia merupakan keturunan suci dari Rasulullah saw. Ayahnya Bernama Imam Muhammad al-Baqir, putra Ali Zainal Abidin bin Husain bin Ali Zainal Abidin bin Husain bin Ali bin Abi Thalib dan ibunya Bernama Fathimah, keturunan Abu Bakar al-Shiddiq.

Imam Ja’far selalu mendapatkan pesan dari ayahnya agar menjauhi kemalasan dan kecerobohan. Sebab, kedua perbuatan itu merupakan kunci segala keburukan.

“Anakku, kalua engkau malas, engkau tidak akan bisa menyampaikan kebenaran. Jika engkau ceroboh, engkau tidak akan bisa bersabar dalam membela kebenaran,” pesan ayahnya kepada Imam Ja’far.

Imam Ja’far memilih menyibukkan diri dengan ilmu pengetahuan. Ia mendorong kaum Muslim untuk mempelajari ilmu-ilmu kedokteran, astronomi, kimia, fisika, matematika, dan ilmu pengetahuan alam lainnya.

Imam Ja’far sangat terkenal dengan keahliannya menjelaskan hadis Nabi saw. Karena kejujurannya dalam meriwayatkan hadis, Imam Ja’far digelari al-Shadiq, artinya orang yang benar. Karena itu, namamnya lebih terkenal dengan panggilan Imam Ja’far al-Shaddiq.

Imam Ja’far menduduki puncak ketinggian dan keagungan seorang ulama yang tidak ada duanya. Ia menguasai berbagai ilmu pengetahuan, baik ilmu agama maupun ilmu pengetahuan umum.

Ulama besar ahli fikih, seperti Imam Abu hanifah dan Imam Maliki, adalah murid-murid Imam Ja’far. Imam Maliki bercerita tentang Imam Ja’far. Aku belum pernah menemukan seorang ulama yang lebih pandai dan takwa kepada Allah melebihi Imam Ja’far.

Jabir Ibnu Hayyan, sarjana kimia terbesar saat itu juga murid Imam Ja’far al-Shaddiq. Ia bercerita tentang gurunya itu. Aku hamper tidak menemukan seorang guru yang lebih baik dari Imam Ja’far.

Kepada semua muridnya, Imam Ja’far menjelaskan empat macam prinsip hidupnya. Pertama, tidak seornag pun diizinkan mengerjakan pekerjaan yang dapat saya kerjakan sendiri. Kedua, saya yakin bahwa Allah melihat apa yang saya kerjakan. Ketiga, saya yakin bahwa tidak seorang pun dapat merampas kehidupan saya  yang telah dijamin Allah. Keempat, saya tahu bahwa suatu saat nanti saya akan mati dan saya selalu siap akan hal itu.

Imam Ja’far tidak pernah meminta bantuan kepada orang lain, terutama kepada para penguasa. Ia memiliki kesabaran dan tenggang rasa yang sangat besar. Ia selalu mengikuti perilaku Rasulullah saw., yaitu membalas kejahatan dengan kebaikan. Pun seperti ayahnya, mempunyai rasa belas kasih kepada kaum fakir miskin. Harta kekayaannya lebih banyak digunakan untuk membantu para fakir miskin.

Nasihat – nasihat Imam Ja’far

Barang siapa yang membuat ayah dan ibunya kesal, berarti ia telah berbuat durhaka terhadap keduanya.

Barang siapa yang hidup hemat, akan ditambahkan rezekinya, dan barang siapa yang hidup boros akan dicabut rezekinya.

Marah adalah kunci segala keburukan. Barang siapa yang tidak mampu menahan amarahnya, ia tidak akan mampu menguasai pikirannya.

Janganlah engkau bersahabat dengan seorang pendengki, yang suka mengomel jika terkena musibah, dan orang yang suka membicarakan kejelekan orang lain.

Sifat-sifat seorang Muslim; tenang, sabar, bersyukur, rida terhadap ketentuan Allah, tidak menyakiti orang lain, tidak menyusahkan teman, rajin bekerja, dan tidak mengganggu orang lain.

Allah akan membuka pintu kemiskinan kepada orang yang suka meminta-minta kepada orang lain.

Sahabat terdiri atas tiga macam. Pertama, sahabat yang menyenangkanmu karena kepribadiannya. Kedua, sahabat yang menyenangkanmu karena hartanya. Ketiga, sahabat yang ingin mendapatkan sesuatu darimu atau hendak memperalatmu. Sahabat ketiga ini harus engkau jauhi.

Jika engkau mendengar seseorang mengatakan sesuatu yang menyakitkan hatimu, janganlah engkau menggurutu. Jika yang dikatakannya itu benar, berarti dosamu telah ditebus. Namun, jika yang dikatakannya itu tidak benar, engkau telah memperoleh kebajikan tanpa amal.

Setelah menjalani kehidupan yang penuh berkah dengan ilmu dan amal, Imam Ja’far berpulang ke rahmatullah pada bulan Syawal tahun 148 H atau tahun 756 M di kota Madinah.

Sumber :

H.F Rahadian, (1998). Seri Ilmuwan Muslim 1, Al-Khawarizmi. Bandung : Salam Prima Media

Tinggalkan Balasan