IMAM AL- GHAZALI

Nama lengkap Imam Ghazali adalah Abu Hamid Muhammad bin Muhammad. Ia lahir di desa Ghazalah, Persia (sekarang Iran) pada tahun 1058 M.

Abu Hamid Muhammad bin Muhammad lebih dikenal dengan nama al-Ghazali karena dihubungkan dengan nama tempat kelahirannya, desa Ghazalah. Al-Ghazali artinya orang yang berasal dari desa Ghazalah.

Pengalaman Berharga

Suatu hari, saat al-Ghazali sedang bepergian, ia dicegat beberapa orang perampok. Karena al-Ghazali tidak mempunyai harta benda, para perampok itu mengambil buku catatannya. Al-Ghazali memohon kepada para perampok itu mengambil agar mengembalikan buku catatan yang baginya sangat bernilai. Kepala perampok malah menertawakan dasn mengejeknya.

“Untuk apa belajar kalau kamu masih tergantung pada buku catatanmu ini?” ejeknya.

Karena tidak ada harta yang dapat diambil dari al-Ghazali. Para perampok itu meninggalkannya dengan kesal. Selamatlah al-Ghazali. Peristiwa ini membawa pengaruh yang besar dalam jiwa al-Ghazali. Karena sejak saat itu, ia menjadi rajin menghafal semua catatan pelajarannya. Ia selalu teringat akan ejekan si kepala perampok.

Setelah menamatkan pelajarannya di kota Thus, al-ghazali pergi ke kota Baghdad. Ia mendaftarkan diri ke Madrasah Nizamiyah yang didirikan oleh wazir (perdana menteri) Nizamul Muluk, dari pemerintahan Saljuk,Turki. Di usian 25 tahun Al-Ghazali sudah menjadi ilmuwan muda yang snagat dihormati di Madrasah Nizamiyah. Saat Al- Ghazali berusia 28 tahun, Imam Haramain meninggal dunia. Wazir Nizamul Muluk  mengangkat Al-Ghazali menjadi rektor perguruan tinggi tersebut.

Pada tahun 1095 M, terjadi kekacauan di kalangan kaum Muslim. Imam al-Ghazali tidak tenang lagi tinggal di kota Bagdad.  Imam al-Ghazali memutuskan untuk mengembara mencari ketenangan hati. Daerah pertama yang dikunjungi Imam al-Ghazali adalah kota Damaskus. Setelah dua tahun Imam Al- Ghazali pergi ke Masjidil Aqsha di Palestina. Setelah itu ke Mesir. Setelah puas tinggal di Mesir, Imam Al-Ghazali kemudian pergi ke Iskandariyah, Maroko, dan akhirnya ke kota suci Makkah untuk menunaikan ibadah haji. Setelah berziarah ke kota makam Rasulullah saw. Di kota Madinah, Imam al-Ghazali kembali ke kota Makkah dan akhirnya mendapatkan ketenangan hati.

Selama sepuluh tahun mengembara dari satu negeri ke negeri lainnya, Imam al-Ghazali berhasil menulis puluhan jilid buku. Di antaranya adalah buku yang berjudul Ihya al- Ulumuddin (menghidupkan kembali ilmu-ilmu agama). Buku ini sangat termasyur hingga sekarang. Kegiatan sehari –hari Imam al-Ghazali adalah mengajar dan menulis buku. Buku-buku yang ditulisnya mencapai jumlah 300 judul buku. Ia pun mendirikan asrama bagi  para pelajar yang datang dari luar kota.

Imam al-Ghazali wafat pada tanggal 14 Jumadil akhir tahun 505 H/1111M. Beberapa saat sebelum wafat, ia minta dibawakan keranda yang biasa digunakan untuk memanggul jenazah. Ia menatap keranda itu sambil berkata, “Apapun perintah Allah, aku siap untuk melaksanakannya. “Ia lalu melunjurkan kakinya dan menghembuskan nafasnya yang terakhir. Jenazahnya dimakamkan di kota Thus, Iran.

Sumber :

H.F Rahadian, (1998). Seri Ilmuwan Muslim 3, Imam Al-Ghazali. Bandung : Salam Prima Media

Tinggalkan Balasan