IBNU SINA ( Bapak Kedokteran )

Ibnu Sina dilahirkan pada tahun 370 H (980 M). di desa Afshanah, dekat Bukhara (Afganistan). Nama lengkapnya adalah Abu Ali Husain bin Abdullah bin Hasan bin Ali bin Sina.

Ibnu Sina menulis buku al-Qanun fi al-Thibb (peraturan ilmu kedokteran), terdiri dari lima jilid denga nisi yang sangat lengkap. Dalam bukunya ini Ibnu Sina menyebutkan 760 macam obat yang belum dikenal para dokter saat itu. Dalam buku tersebut dibahas pula prinsip-prinsip umum ilmu kedokteran, penyakit – penyakit yang bisa menular dan cara mengobatinya. Karena karyanya ini, Ibnu Sina diberi gelar Syaikh al-Rais (guru besar). Sampai abad 17, buku al-Qanun Fi al-Thibb ini, dipakai oleh para mahasiswa kedokteran di universitas – universitas di Eropa. Mereka mengenal Ibnu Sina dengan nama Avicenna.

Kemasyhuran dari buku al-Qanun fi al-Thibb. Mengandung sekitar setengah juta kata, buku yang berjilid-jilid ini membahas pengetahuan ilmu kedoteran dari zaman kuno sampai saat itu. Pendekatannya yang komprehensif dan sistematis membuat buku ini menjadi referensi utama para dokter yang berbahasa Arab dan Farsi, dan begitu diterjemahkan ke bahasa Latin, buku ini menjadi salah satu buku pelajaran standar Eropa selama enam abad dengan sekitar 60 edisi diterbitkan antara tahun 1500 dan 1674.

Ibnu Sina menemukan bahwa tuberkolosis menular, bahwa penyakit bisa menyebar melalui tanah dan air, dan emosi seseorang bisa memengaruhi kesehatannya. Dia juga menyadari bahwa syaraf bisa menyalurkan rasa sakit dan sinyal kontraksi otot.     

Kesuksesan yang diraih Ibnu Sina dalam bidang ilmu pengetahuan tidak terlepas dari kecerdasan otaknya. Karena kecerdasannya itu, Ibnu Sina menjadi seorang ilmuwan Muslim muda yang disegani. Selain kecerdasannya yang sangat mengagumkan, Ibnu Sina mempunyai semangat belajar yang luar biasa.

Ibnu Sina bercerita tentang dirinya,”Setiap aku mempunyai persoalan dalam ilmu pengetahuan, aku mengadu kepada Allah. Aku berwudu, lalu pergi ke masjid untuk sholat. Aku berdoa kepada Allah agar diberi kemudahan dalam mencari jawaban dari semua persoalanku itu.

Ibnu Sina wafat dalam usia 57 tahun. Semua lapisan masyarakat saat itu, baik Muslim maupun non-Muslim merasa kehilangan seorang tokoh ilmuwan besar yang berjuang tanpa pamrih.

Sumber :

H.F Rahadian, (1998). Seri Ilmuwan Muslim 2, Ibnu Sina. Bandung : Salam Prima Media

Masood, Ehsan. (2009). Ilmuan-Ilmuwan Muslim Pelopor Hebat di Bidang Sains Modern. Jakarta: PT Gramedia

Tinggalkan Balasan