You are currently viewing Empat Perkara yang Wajib Dipelajari Seorang Muslim (Bag.2)

Empat Perkara yang Wajib Dipelajari Seorang Muslim (Bag.2)

Mengamalkannya

Setelah seorang Muslim mengenal Allah ta’ala, mengenal rasul-Nya Muhammad shallallahu alaihi wasallam, dan mengenal agama Islam berikut dengan dalil-dalilnya, maka kewajiban selanjutnya adalah mengamalkannya, karena konsekuensi dari ilmu adalah amal. Seseorang yang berilmu tapi tidak mengamalkan maka ia serupa dengan orang Yahudi. Dan seseorang yang beramal tanpa ilmu maka ia serupa dengan orang Nashrani.

Mendakwahkannya

Setelah seorang Muslim memiliki ilmu dan mengamalkannya, maka kewajiban setelahnya adalah mendakwahkannya. Dakwah di dalam Islam dilakukan dengan memperhatikan adab atau etika yang baik, dan tidak dilakukan secara serampangan. Allah ta’ala berfirman:

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik..” (QS. An-Nahl: 125)

Allah ta’ala juga berfirman:

وَلا تُجَادِلُوا أَهْلَ الْكِتَابِ إِلا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِلا الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْهُمْ

“Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim di antara mereka..” (QS. Al-Ankabut: 46)

Dakwah juga harus berlandaskan pemahaman ilmu agama yang benar. Allah ta’ala berfirman:

قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ (108)

“Katakanlah, “Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kalian) kepada Allah dengan hujjah yang nyata (bashirah). Mahasuci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.” (QS. Yusuf: 108)

Yang dimaksud dengan bashirah adalah pemahaman yang benar terkait hukum syariat, tata-cara berdakwah, dan kondisi orang-orang yang menjadi sasaran dakwah.

Medan Dakwah Seorang Muslim

Medan dakwah sangatlah banyak dan luas, di antaranya:

1. Penyampaian khutbah dan ceramah.

2. Penyebaran artikel Islami.

3. Majelis-majelis kajian.

4. Penyusunan dan penyebaran buku-buku Islami.

Dakwah menjadi kewajiban para rasul alaihimus shalatu wassalam dan orang-orang yang mengikuti jejek mereka. Ketika seorang muslim telah mengenal Rabbnya, Nabinya, dan agamanya. Lalu Allah ta’ala juga telah memberikan taufik kepadanya untuk bisa mengamalkannya, maka kewajiban selanjutnya adalah mendakwahkannya kepada saudara-saudaranya dan orang-orang di sekitarnya. Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam bersabda kepada Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu:

انْفُذْ عَلَى رِسْلِكَ حَتَّى تَنْزِلَ بِسَاحَتِهِمْ, ثُمَّ ادْعُهُمْ إِلَى الْإِسْلَامِ, وَأَخْبِرْهُمْ بِمَا يَجِبُ عَلَيْهِمْ, فَوَاللَّهِ لَأَنْ يَهْدِيَ اللَّهُ بِكَ رَجُلًا خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ يَكُونَ لَكَ حُمْرُ النَّعَمِ.

“Melangkahlah ke depan hingga kamu memasuki tempat tinggal mereka lalu serulah mereka ke dalam Islam dan beritahu kepada mereka tentang apa yang diwajibkan atas mereka. Demi Allah, bila ada satu orang saja yang mendapat petunjuk melalui dirimu maka itu lebih baik bagimu daripada unta-unta merah (unta yang paling bagus).” (HR. Al-Bukhari: 3009)

Dalam hadits lain Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنْ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنْ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا

“Barangsiapa mengajak kepada kebaikan, maka ia akan mendapat pahala sebanyak pahala yang diperoleh orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Sebaliknya, barangsiapa mengajak kepada kesesatan, maka ia akan mendapat dosa sebanyak yang diperoleh orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun.” (HR. Muslim: 2674)

Bersabar dalam Dakwah

Seorang muslim yang berdakwah pastilah mendapati berbagai macam rintangan dan gangguan, karenanya ia dituntut untuk bersabar dalam menghadapinya. Gangguan dakwah sudah terlebih dahulu dialami oleh para rasul, dan mereka mampu bersikap sabar. Sebagaimana yang Allah sebutkan dalam Al-Quran:

وَلَقَدْ كُذِّبَتْ رُسُلٌ مِنْ قَبْلِكَ فَصَبَرُوا عَلَى مَا كُذِّبُوا وَأُوذُوا حَتَّى أَتَاهُمْ نَصْرُنَا

“Dan sesungguhnya telah didustakan (pula) rasul-rasul sebelum kamu, tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Kami kepada mereka..” (QS. Al-An’am: 34)

Semakin besar gangguan yang dialami oleh seorang dai maka ia semakin dekat dengan pertolongan Allah ta’ala. Pertolongan yang diberikan oleh Allah tidak selalu dalam bentuk pertolongan ketika dai tersebut masih hidup di dunia, sehingga ia dapat melihat dakwahnya berkembang pesat. Akan tetapi terkadang pertolongan Allah datang setelah sang dai meninggal dunia dalam bentuk diberkahinya dan diterima dakwah itu oleh masyarakat luas.

Di antara gangguan yang dialami oleh para rasul adalah dalam bentuk penghinaan dan pelecehaan. Sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah ta’ala:

كَذَلِكَ مَا أَتَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ مِنْ رَسُولٍ إِلا قَالُوا سَاحِرٌ أَوْ مَجْنُونٌ

“Demikianlah tidak seorang rasul pun yang datang kepada orang-orang yang sebelum mereka, melainkan mereka mengatakan, “Ia adalah seorang tukang sihir atau orang gila.” (QS. Adz-Dzariyat: 52)

Juga dalam bentuk gangguan fisik. Seperti yang dituturkan oleh Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhu:

كَأَنِّي أَنْظُرُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَحْكِي نَبِيًّا مِنْ الْأَنْبِيَاءِ ضَرَبَهُ قَوْمُهُ فَأَدْمَوْهُ وَهُوَ يَمْسَحُ الدَّمَ عَنْ وَجْهِهِ وَيَقُولُ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِقَوْمِي فَإِنَّهُمْ لَا يَعْلَمُونَ

“Sepertinya aku melihat Nabi ﷺ sedang bercerita tetang seorang Nabi diantara para nabi yang dipukuli oleh kaumnya hingga berdarah-darah sambil beliau mengusap darah yang mengalir dari wajah beliau lalu bersabda, “Ya Allah, ampunilah kaumku karena mereka orang-orang yang belum mengerti.”” (HR. Al-Bukhari: 3477)

Macam – Macam Sabar

Para ulama menjelaskan bahwa sabar itu ada tiga, yaitu:

1. Sabar dalam ketaatan kepada Allah.

2. Sabar dari hal-hal yang diharamkan oleh Allah.

3. Sabar terhadap takdir Allah berupa ujian dan musibah.

Dalil Kewajiban Mempelajari Empat Perkara

Dalil yang menunjukkan wajibnya seorang hamba untuk mempelajari empat perkara ini (lihat tulisan bag. 1) adalah firman Allah ta’ala dalam surat Al-Ashr ayat 1-3:

وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (3)

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat-menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al-Ashr: 1-3)

Dalam surat yang mulia ini Allah ta’ala bersumpah dengan masa bahwasanya manusia benar-benar berada dalam kerugian kecuali orang-orang yang memiliki empat sifat, yaitu:

1. Beriman (berilmu).

2. Beramal shalih.

3. Saling menasehati dengan kebenaran (berdakwah).

4. Saling menasehati dengan kesabaran.

Jihad terhadap Hawa Nafsu

Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah menjelaskan bahwa tingkatan dalam berjihad melawan hawa nafsu ada empat:

1. Berjihad dengan mempelajari ilmu, petunjuk, dan agama yang benar; karena kebahagiaan hidup seorang hamba bergantung padanya, baik di dunia dan akhirat.

2. Berjihad agar bisa mengamalkan sesuatu yang telah diilmuinya.

3. Berjihad untuk bisa mendakwahkannya dan mengajarkan kepada orang yang belum mengetahuinya.

4. Berjihad untuk bisa bersabar karena Allah ta’ala atas rintangan dakwah dan gangguan orang lain. Apabila keempat tingkatan ini dapat terealisasi dalam dirinya maka ia menjadi seorang Rabbani.

Terkait surat Al-Ashr, Imam Asy-Syafi’i mengatakan:

لو ما أنزل الله حجة على خلقه إلا هذه السورة لكفتهم

“Seandainya saja Allah tidak menurunkan hujjah kepada makhluk-Nya kecuali surat ini, niscaya surat ini sudah cukup bagi mereka.”

Berilmu Sebelum Beramal

Tentang kewajiban berilmu sebelum beramal, Imam Al-Bukhari membuat sebuah bab dalam kitab Shahihnya:

باب العلم قبل القول والعمل

“Bab wajibnya berilmu sebelum berucap dan berbuat.”

Lalu beliau menyertakan dalil firman Allah ta’ala:

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ

“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu..” (QS. Muhammad: 19)

Kemudian beliau berkata, “Dalam ayat ini Allah ta’ala memerintahkan dengan ilmu sebelum berucap dan berbuat.”

Wallahu a’lam

Rujukan: Syarh Tsalatsah Al-Ushul karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin hal. 22-28

Tinggalkan Balasan