DAKWAH: MENGAJAK DENGAN KETELADANAN

(Bagian Ke-2 Lanjutan 28 Februari 2023)

Allah sudah berfirman dalam Q.S. Al Baqoroh: 44

وَآَمِنُوا بِمَا أَنْزَلْتُ مُصَدِّقًا لِمَا مَعَكُمْ وَلَا تَكُونُوا أَوَّلَ كَافِرٍ بِهِ وَلَا تَشْتَرُوا بِآَيَاتِي ثَمَنًا قَلِيلًا وَإِيَّايَ فَاتَّقُونِ

Artinya:

“Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir?”

        Ayat tersebut merupakan penegasan bagi kaum Yahudi. Dari ayat tersebut dijelaskan bahwasanya kaum Yahudi juga memiliki ajaran dakwah yaitu menyuruh umatnya untuk mengerjakan kebajikan, namun mereka melupakan dirinya sendiri. Mereka menyuruh orang lain untuk melakukan kebaikan, namun mereka sendiri tidak melakukan kebaikan tersebut. Disinilah dapat kita temukan adanya kebhatilan amar makruf versi Yahudi. Umat Yahudi mengajarkan amar makruf tetapi terdapat kebatilan antara ucapan dan perbuatan yang mereka lakukan. Umat Yahudi menyerukan amar makruf tetapi mereka sendiri tidak melakukan perbuatan tersebut. Itulah titik pembeda amar makruf umat Islam dengan kaum Yahudi.

        Perlu diketahui pula, bahwasanya dalam ajaran Yahudi juga mengenal istilah amar makruf. Umat Yahudi juga mengajarkan untuk menyuruh kepada kebajikan. Lantas, apa yang membedakannya amar makruf versi Islam dengan amar makruf versi Yahudi?

        Sebagai umat Islam yang kaffah, kiranya kita perlu meneladani dan berpedoman pada Kitabullah, Al-Qur’an. Dalam Q.S. An-Nahl: 125 telah dijelaskan sebagai berikut.

اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖ وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ

Artinya: Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan Al Hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. (Q.S. An-Nahl: 125)      


        Kita sebagai umat Islam selain memberikan seruan dan ajakan kebaikan, kita juga harus mampu memberikan keteladanan atau contoh yang baik atas seruan tersebut. Ajakan amar makruf harus diimbangi dengan bil hikmah sebagai bentuk keteladanan kepada orang lain. Islam mengajarkan untuk memberikan pelajaran dan pandangan dengan cara keteladanan. Prinsip tersebut sebenarnya sudah tertanam pada diri Rasulullah SAW, sebagai uswatun hasanah umat Islam. Sudah sepantasnya kita meneladani dan mencontoh akhlak baik dan cara beliau dalam berdakwah, bermu’amalah, dan beribadah.

        Marilah kita sebagai umat Islam mampu memberikan contoh kebaikan kepada umat yang lain. Kita tanamkan dalam hati kita sebagai umat Islam, bahwa kitalah umat teladan di muka bumi ini, umat yang tidak hanya mampu bicara lantang menyeru kepada kebaikan, namun juga umat yang lantang memberikan teladan untuk kebaikan, saling tolong-menolong, tenggang rasa. Sebagaimana hakikat Dakwah diatas, yakni seruan untuk memeluk, mempelajari dan mengamalkan ajaran agama. Mari bersama-sama kita mengamalkan ajaran kebaikan Islam. Sehingga Islam benar-benar menjadi pakaian kebesaran dan kebanggan kita, sehingga Islam kembali Berjaya di masa yang akan datang.

       Semoga kita semua mampu menjadi pelopor umat untuk menyuarakan semangat amar makruf nahi munkar yang juga tercermin dari perbuatan dan tingkah laku kita sehari-hari. Sehingga, kita tidak di cap sebagai umat, ulama, mubaligh, atau tokoh masyarakat yang hanya bisa memerintah, tanpa ada sebuah keteladanan dari diri kita sendiri. Jazakumullah khoiran katsiran…

Tinggalkan Balasan