AGAR KEHIDUPAN BERTETANGGA MENJADI INDAH

Sebuah Renungan

Dalam hadits yang diriwayatkan dari Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu anhu, Rasulullah bersabda:

أربعة من السعادةِ: المرأةُ الصالحةُ، والمسكنُ الواسعُ، والجارُ الصالحُ، والمركبُ الهنيءُ. أربعٌ من الشَّقاءِ: الجارُ السوءُ، والمرأةُ السوءُ، والمركبُ السوءُ، والمسكنُ الضَّيِّقُ.

“Ada empat di antara hal yang menjadi kebahagiaan: istri yang shalihah, tempat tinggal yang lapang, tetangga yang baik, dan kendaraan yang nyaman. Ada empat di antara hal yang menjadi kesengsaraan: tetangga yang buruk, istri yang tidak shalihah, kendaraan yang tidak nyaman, dan tempat tinggal yang sempit.” (HR. Ibnu Hibban: 4032, dishahihkan oleh al-Albani)

Kedudukan Tetangga dalam Islam

Allah ta’ala berfirman:

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا (36)

“Sembahlah Allah dan janganlah kalian mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu bapak, karib kerabat. anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahaya yang kalian miliki. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.” (QS. An-Nisa: 36)

Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa tetangga memiliki kedudukan yang tinggi dalam Islam, Allah ta’ala menyebutkan ada tetangga dekat (al-jari dzil qurba) dan ada tetangga jauh (al-jari al-junubi).

Dalam hadits yang diriwayatkan dari Aisyah radhiallahu’anha dari Nabi beliau bersabda,

مَا زَالَ يُوصِينِي جِبْرِيلُ بِالْجَارِ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَرِّثُهُ

“Jibril senantiasa mewasiatkanku untuk berbuat baik terhadap tetangga sehingga aku mengira tetangga juga akan mendapatkan harta waris.” HR. Bukhari: 6014)

Adab-Adab Bertetangga dan Hak-Haknya

Terkait hal ini Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jazairi dalam buku beliau “Minhajul Muslim” menyebutkan ada 4 adab bertetangga:

1. Tidak menyakitinya baik dengan ucapan maupun dengan perbuatan,

Dari Abu Hurairah dari Nabi , beliau bersabda,

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلَا يُؤْذِي جَارَهُ

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan juga kepada hari akhir, maka janganlah ia menyakiti tetangganya. (HR. Bukhari: 5185)

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda,

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ

“Tidak akan masuk surga, orang yang mana tetangganya tidak aman dari bahayanya.” HR. Muslim: 46)

Dari Abu Hurairah berkata, Seorang lelaki berkata,

 يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ فُلَانَةَ يُذْكَرُ مِنْ كَثْرَةِ صَلَاتِهَا وَصِيَامِهَا وَصَدَقَتِهَا غَيْرَ أَنَّهَا تُؤْذِي جِيرَانَهَا بِلِسَانِهَا قَالَ هِيَ فِي النَّارِ

“Wahai Rasulullah, ada seorang wanita yang terkenal dengan banyak salat, puasa dan sedekah, hanya saja ia menyakiti tetangganya dengan lisannya.” Maka beliau bersabda, “Dia di neraka.”

Lelaki itu berkata,

يَا رَسُولَ اللَّهِ فَإِنَّ فُلَانَةَ يُذْكَرُ مِنْ قِلَّةِ صِيَامِهَا وَصَدَقَتِهَا وَصَلَاتِهَا وَإِنَّهَا تَصَدَّقُ بِالْأَثْوَارِ مِنْ الْأَقِطِ وَلَا تُؤْذِي جِيرَانَهَا بِلِسَانِهَا قَالَ هِيَ فِي الْجَنَّةِ

“Wahai Rasulullah, ada seorang wanita yang terkenal dengan sedikit puasa, sedekah dan salatnya, ia hanya bersedekah dengan sepotong keju, tetapi ia tidak menyakiti tetangganya dengan lisannya,” Maka beliau bersabda, “Dia di surga.” (HR. Ahmad: 9298, isnadnya hasan menurut al-Arnauth)

2. Berbuat baik kepadanya, menolongnya, menjenguknya ketika sakit, memberi ucapan selamat ketika dia bahagia, ikut berduka ketika dia tertimpa mbah, mengawali mengucapkan salam kepadanya, bertutur kata dan bersikap lembut terhadapnya dan anaknya, mengarahkannya kepada kebaikan, menjaga rumah dan lingkungan sekitarnya, memaafkan kesalahannya, tidak membuka aibnya, dan tidak membuatnya sempit terkait bangunan serta jalan. Juga tidak mengganggunya dalam hal saluran air, kotoran, dan sampah,

Dari Abu Syuraih Al Khuza’i, bahwa Nabi bersabda,

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُحْسِنْ إِلَى جَارِهِ

“Barang siapa beriman pada Allah dan hari Akhir hendaknya ia berbuat baik terhadap tetangganya.” (HR. Ibnu Majah: 3672, dishahihkan oleh al-Albani)

3. Berbagi makanan dan kebaikan kepada tetangga,

Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, dari Nabi , beliau bersabda,

يَا نِسَاءَ الْمُسْلِمَاتِ لَا تَحْقِرَنَّ جَارَةٌ لِجَارَتِهَا وَلَوْ فِرْسِنَ شَاةٍ

“Wahai para wanita muslimah, janganlah seorang tetangga menganggap remeh pemberian dari tetangga yang lain sekalipun pemberian tersebut adalah berupa kuku kambing”. (HR. Bukhari: 2566)

Dari Abu Dzar radhiyallahu anhu dia berkata, Rasulullah bersabda,

يَا أَبَا ذَرٍّ إِذَا طَبَخْتَ مَرَقَةً فَأَكْثِرْ مَاءَهَا وَتَعَاهَدْ جِيرَانَكَ

“Wahai Abu Dzar, Apabila kamu memasak kuah sayur, maka perbanyaklah airnya, dan berikanlah sebagiannya kepada tetanggamu.” (HR. Muslim: 2625)

Dari ‘Aisyah radhiallahu’anha berkata, “Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, aku punya dua tetangga, kepada siapa dari keduanya yang paling berhak untuk aku beri hadiah?” Beliau bersabda,

إِلَى أَقْرَبِهِمَا مِنْكِ بَابًا

“Kepada yang paling dekat pintu rumahnya darimu”. (HR. Bukhari: 2259)

4. Menghormati dan memuliakan tetanggatetangga, tidak melarangnya untuk menyandarkan kayu di tembok rumahnya, tidak menjual dan mengontrakkan bangunan kecuali setelah bermusyawarah dan menawarkan kepada tetangganya tersebut,

Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu bahwa Rasulullah bersabda,

لَا يَمْنَعْ جَارٌ جَارَهُ أَنْ يَغْرِزَ خَشَبَهُ فِي جِدَارِهِ

“Janganlah seseorang melarang tetangganya untuk menyandarkan kayunya di dinding rumahnya.” (HR. Bukhari: 2463)

Dalam habits yang lain Rasulullah bersabda:

من كان له جار في حائط أو شريك فلا يبعه حتى يعرضه عليه

“Barangsiapa memiliki tetangga yang temboknya menempel dengan rumahnya atau yang satu rumah dengannya (memilikinya secara bersama), janganlah menjual rumah itu sebelum menawarkan kepadanya terlebih dahulu.” (HR Al-Hakim)

Wallahu a’lam

Oleh: Irfan Ma’ruf Maulana, S.Pd.I

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp